Ingin Lebih Dari Sekedar Tukang Jurnal?

Pertama Menjadi Pegawai Accounting

Bisa dibilang tahun pertama lewat tanpa terasa, habis hanya untuk membiasakan diri dalam menghadapi pekerjaan sungguhan—setelah bertahun-tahun belajar teori dan konsep di kampus. Tak banyak perubahan; gaji masih kecil, masih sering diomeli atasan, dan khusus di accounting yang pasti masih jadi mengerjakan data entry, pengimput data, alias “tukang jurnal!”
Saya pikir itu wajar. Mana mungkin ada perusahaan yang berani menyerahkan urusan keuangan, lebih dari sekedar mencatat (menjurnal), kepada pegawai akuntansi yang baru bekerja satu tahun. Mengelola keuangan suatu perusahaan memang bukan urusan yang mudah. Salah-salah, bisa menimbulkan kerugian.

Apakah di tahun kedua sudah pasti ada kenaikan jenjang karir?

Belum tentu. Tergantung perkembangan kemajuan yang telah dicapai selama tahun pertama. Dari sekian banyak pegawai accounting yang pernah jadi bawahan saya, sebagian besar dari mereka, di tahun kedua dan ketiga masih berkutat (berusaha keras) memahami beberapa perlakuan khusus dari transaksi-transaksi khusus yang mungkin selama di tahun pertama belum terjadi.

Beberapa perlakuan akuntansi yang biasanya belum sungguh-sungguh dipahami (masih mengalami kesulitan pemahaman) antara lain:

* Alokasi biaya overhead ke masing-masing produk – Akuntansi biaya (untuk manufaktur)
* Hubungan antara Harga pokok produksi dengan harga pokok penjualan (untuk manufaktur)
* Transaksi yang melibatkan mata uang asing (foreign currency accounting)
* Kapitalisasi biaya terkait dengan aktiva tak berwujud (intangible asset)
* Transfer pricing (untuk perusahaan yang memiliki subsidiary/cabang)
* Budgeting (capital dan operasional)
* Perlakuan biaya terkait dengan aktivitas import
* Penurunan nilai (impairment), revaluasi, dan write-off
* Membuat laporan arus kas—yang sering dibingungkan antara penganggaran kas, transaksi kas (atau setara), dan laporan arus kas itu sendiri.
* Perlakuan dan penyajian laporan atas ordinary items

Dan masih banyak lagi lainnya—variatif, tergantung apa bidang usaha perusahaan ditempatnya bekerja. Yang paling banyak dan sering terjadi adalah: kesulitan memahami hubungan antara ‘Laporan Laba Rugi’ dengan ‘Neraca’.

Kesulitan memahami hubungan antara laporan laba rugi dengan neraca mengakibatkan kesulitan-kesulitan lainnya yang sifatnya sangat fundamental, antara lain: tidah bisa membuat jurnal koreksi bila kesalahan diketahui setelah tutup buku.

Misalnya: PT. JAK tutup buku setiap tanggal 31 Desember. Tanggal 10 Januari 2012 disadari bahwa biaya listrik periode 2011 diakui terlalu besar. Mereka tidak tahu akun apa yang harus didebit dan dikredit untuk memperbaiki kesalahan itu, karena akun biaya listrik sudah ditutup, saldo buku besarnya sudah nol.

Kasus seperti ini biasanya terjadi apabila ditahun pertama, proses tutup buku dilakukan oleh atasan—atau akuntan dari luar. Maka sebaiknya kita selalu melibatkan semua pegawai yang ada di bagian accounting setiap kali melakukan tutup buku—meskipun itu tidak ada di job deskripsinya. Dengan demikian, semua pagawai accounting mendapat kesempatan yang sama untuk belajar memahami proses tutup buku.

Keterampilan atau kemahiran menguasai perlakuan akuntansi yang sifatnya spesifik seperti yang sudah saya sebutkan, dalam dunia pengembangan karir disebut dengan ‘keterampilan teknis’ atau bahasa kerennya ‘hardskill”.

Terus Di Accounting Atau Alih Profesi?

Kesulitan menguasai hardskill—menangani perlakuan akuntansi dari yang bersifat umum hingga spesifik, tentu saja menimbulkan beban sekaligus tekanan mental. Bagimana tidak, sebagian fungsi (tugas) utama sebagai orang accounting menjadi tidak bisa ditunaikan dengan baik karena sebagian keterampilan teknis (hardskill) belum dikuasai.

Dan, reaksi pegawai accounting terhadap tekanan dan beban mental tersebut berbeda antara yang satu dengan lainnya:

1. Banting Setir (alias alih profesi) – Tak tahan oleh tekanan dan tuntutan pekerjaan yang dirasa semakin kompleks, akhirnya memilih untuk mengatakan “enough!—cukup sudah stress yang aku alami”. Mulai melirik peluang lain di luar accounting, mulai mencar-cari lowongan pekerjaan di bidang lain yang masih terkait dengan keuangan. Yang paling banyak terjadi adalah bergeser ke wilayah manajemen, misalnya: manajemen risk (risk manajemen), credit analyst, bahkan ada yang sampai menjadi collector. Bila perempuan biasanya larinya ke pekerjaan-pekerjaan secretariat, hingga ke personal assistant. Tentu. Tidak ada yang salah dengan alih profesi. Jika memang itu lebih baik, kenapa tidak? Iya kan? Hanya saja, setelah itu biasanya ilmu akuntansi yang dipelajari selama bertahun-tahun di bangku kuliah lenyap begitu saja. Nyaris tak berbekas. Sayang bukan?

2. Masa Bodo – Tak kalah banyaknya dibandingkan mereka yang memilih ganti haluan adalah sikap masa bodo. Merasa cukup hanya sampai menjadi tukang jurnal saja. Sehingga dari tahun-ke-tahun, masih tetap di posisi semula. Misalnya: masuk sebagai pegawai data entry, selamanya jadi tukang entry data. Masuk di bagian AP, selamanya dia hanya mengurusi Accounts Payable saja. Dan lain sebagainya. Intinya, karir mereka jalan di tempat! Sangat patut disayangkan.

3. Merasa Tertantang – Yang memiliki mental kuat—tahan stress dan memiliki kemauan yang cukup keras untuk belajar, biasanya akan merasa tertantang. Tantangan itu kemudian dijawab dengan mulai mencari informasi kesana kemari. Yang paling banyak dilakukan adalah membuka-buka kembali buku-buku akuntansinya di masa kuliah dahulu—terutama intermediate-advance accounting, cost accounting, termasuk mencari-cari informasi di internet (seperti di JAK). Yang seperti inilah yang memiliki potensi besar untuk maju, mengalami peningkatan karir dalam waktu yang relative lebih cepat.

Penguasaan Hardskill Accounting Adalah Modal Dasar

Merasa tertantang sehingga terus berusaha memeperbaiki diri dan meningkatkan hardskill, adalah modal awal untuk menapaki jenjang karir yang lebih tinggi. Dan itu berlaku di semua bidang—bukan hanya di accounting.

Kemampuan seseorang untuk meingkatkan hardskill bergantung pada 2 faktor dasar berikut ini:

1. Kemauan dan Keinginan – Ini yang paling mutlak harus ada sejak diawal. Kemauan yang cukup kuat untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Keinginan untuk menjadi seorang akuntan yang lebih dari sekedar tukang jurnal. Pada dasarnya, tak ada kemajuan apapun yang bisa dicapai tanpa proses belajar. Tentu, yang namanya proses belajar tidak selalu di ruang kuliah, seminar atau workshop. Proses belajar bisa terjadi dari setiap aktivitas pekerjaan akuntansi yang dilakukan. Dan berhasil atau tidaknya sangat tergantung pada kemauan dan keinginan.

2. Rasa Percaya Diri – Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa, rasa percaya diri besar pengaruhnya terhadap setiap kemajuan yang ingin dicapai. Tanpa rasa percaya diri yang cukup, seseorang akan menjadi sangat mudah untuk berpikir “ah.. sepertinya aku memang tidak berbakat di bidang akuntansi”, lalu menyerah. Obat paling ampuh untuk ini adalah: tekad “aku bisa”. Tekad yang perlu ditanamkan pada diri sendiri, sehingga setiap kegagalan (yang sudah pasti sering terjadi) selalu bisa dipandang sebagai bagian dari proses belajar—proses menuju ‘bisa’ yang sudah dijadikan tekad.

Dua faktor dasar tersebut hanya modal dasar. Modal dasar untuk bisa tetap berada di jalur yang sama, yaitu: akuntansi (accounting). Siap untuk menapakan kaki di jenjang karir yang lebih tinggi, dengan tantangan yang lebih besar dan kompleks tentunya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Karir Selanjutnya

Pendidikan akuntansi, pengalaman di tahun-tahun pertama, dan penguasaan terhadap keterapilan-keterampilan teknis akuntansi baru langkah pertama. Pada titik ini, seseorang yang berkarir di bidang akuntansi dan keuangan biasanya sudah siap untuk menduduki posisi setingkat supervisor.

Selanjutnya, urusan seberapa cepat perkembangan karir di accounting, dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satunya adalah: TINGKAT KECERDASAN, baik itu kecerdasan logika maupun emosional.

Diakui atau tidak, pada kenyataannya kecerdasan memang berpengaruh pada kecepatan perkembangan karir seseorang. Ada seseorang yang cukup sekali menjalankan jenis pekerjaan tertentu, dia sudah belajar sesuatu—dan langsung menguasainya. Tetapi ada orang lainnya yang untuk menguasai pekerjaan yang sama perlu berkali-kali menjalankannya. Sehingga waktu yang dikonsumsi menjadi berbeda.

Dan, kecepatan ini hanya tercapai bila hardskill (keterampilan-keterampilan teknis) sudah sangat dikuasai. Ibarat belajar naik sepeda, sudah bisa berjalan dengan kecepatan penuh tanpa terjatuh.

Mereka yang mampu menguasai teknis pekerjaan dengan lebih cepat, memiliki peluang lebih besar untuk memepelajari hal-hal lainnya, termasuk kemampuan mengasah kemampuan ANALITIS (analytic) dan PENILAIAN (judgement). Dua kemampuan ini adalah sayarat utama untuk memasukai ‘management-level’.

Bandingkan: Si A (posisi Accounts Payable Supervisor) yang sudah menguasai teknis pekerjaan di AP, memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan si B (posisi Accounts Receivable Supervisor).

Sementara si B masih berkutat untuk menangani banyaknya invoice yang tercecer, urusan AP si A sudah beres—sehingga dia memiliki waktu yang cukup untuk mengidentifikasi vendor mana yang selalu mengirimkan barang tepat waktu dengan tingkat retur yang rendah. Si A juga sempat membuat ranking vendor. Hasil analisanya selanjutnya dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan pemeblian oleh perusahaan.

Nah, antara si A dan si B, mana yang lebih berpotensi menjadi chief accounting atau accounting manager? Sudah pasti si A, bukan si B yang masih saja sibuk mengurusi invoice. Si A sudah menjalankan fungsi yang lebih dari sekedar tukang jurnal, lebih dari sekedar memasukan data ke dalam pembukuan.

Tentu aktivitas di accounting bukan hanya AP dan AR. Penguasan pekerjaan-pekerjaan teknis mempengaruhi kecepatan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya teknis. Sekaligus membuka peluang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya analitis, dan judgmental.

Mau Jadi Ahlinya?

Dengan kemampuan mengelola dan menganalisa, sudah cukup untuk memasuki jenjang manajer. Level selanjutnya adalah ‘executive’. Di Accounting dan keuangan, posisi yang sudah tergolong executive level adalah: Controller dan Treasurer ke atas, hingga Chief Financial Officer (CFO). Dan untuk mencapai posisi ini yang dibuthuhkan bukan hanya skill atau keterampilan, melainkan KEAHLIAN (expertise).

Untuk menduduki posisi executive-level, anda harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Dan kemampuan seperti ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang sudah berstatus AHLI (expert).

Seorang ahli (expert) di bidang accounting dan keuangan menguasai segala hal terkait dengan aspek accounting dan keuangan. Mampu menangkap suatu masalah di dalam perusahaan hanya dari membaca laporan tertentu (khususnya laporan keuangan) dalam waktu tak lebih dari 30 menit. Sekaligus mampu menyediakan solusi ampuh untuk menghentikan masalah tersebut.

Kemampuan seperti itu hanya terlahir dari proses pembelajaran yang panjang. Belajar dari buku, pekerjaan dan pengalaman secara terus-menerus dari waktu-ke-waktu. Ada banyak hal yang dipelajarinya: mulai dari accounting standard hingga teknologi akuntansi terkini, dari hukum pajak hingga business practice, dari project management hingga psikologi perilaku.

Sudah pasti bukan sesuatu hal yang mudah. Bukan sesuatu yang bisa diraih secara instant. Tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Selama ada kemauan untuk terus belajar (tidak cepat merasa pintar) dan bekerja (tidak cepat merasa berjasa), saya yakin kesempatan dan peluang itu selalu terbuka. Terbuka bagi siapapun yang ingin mencapainya, termasuk saya dan anda tentunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s