Kau

“Kau dengan cahaya redup di tanganmu membekukan duniaku.. Lalu kembang api meledak di angkasa ketika kau tersenyum, waktu seakan melambat melawan jantungku yang malah berdetak cepat.

Terimakasih telah mengingatkanku lagi pada nikmatnya duduk terpekur di pelataran senja.. Terimakasih telah menuntunku untuk tersenyum ketika beranjak tidur.

Kita biarlah sesederhana ini, tanpa drama, tanpa banyak kata. Dan jika kata sayang terlalu berlebihan, biarkan aku jadi orang yang menjagamu ketika kau rapuh dan menarikmu turun ketika kau terlalu angkuh.” – Fiersa Besari

APRIL

“Aku senang berdialog denganmu.. bukan karena kau punya wawasan seluas Mbah Google, atau kata-kata sebijak Mario Dedeh, kau bisa membuatku tertawa.

Menikmati deras hujan yang membuat kita membatalkan rencana pun tak mengapa.

Disebelahmu.. dan merasakan debaran yang sama sudah lebih dari cukup. Lalu tiba saat itu, ketika kau harus pergi, tanpa kata, tanpa berita, hanya meninggalkan sejumput cerita.

Hatiku seakan diremas, sakit luar biasa entah kenapa. Aku tenggelam dalam drama yang kuciptakan sendiri. Kalau difilmkan, mungkin ini jadi klimaksnya, aku duduk sendirian di bawah hujan, menunggumu yang tidak datang. Tapi ini bukan film, ini nyata, tidak ada credit title setelah ini, hidup harus kembali berjalan.

Kutatap senja sebelum akhirnya langit menggelap, menelan semua cahaya seperti kau menelan kebahagiaanku. Tapi toh matahari akan selalu kembali menyapa bumi, bahagiaku juga pasti akan kembali bersemi dengan atau tanpamu.” – Fiersa Besari

I Wrote This for You

I need you to understand something. I wrote this for you. I wrote this for you and only you. Everyone else who reads it, doesn’t get it. They may think they get it, but they don’t. This is the sign you’ve been looking for. You were meant to read these words. “Yesterday.. I just realized that I fall for you, fall ’cause something that you do..  fall in love!!”